BREAKING

PEMIKIRAN

SASTRA

Latest Posts

Senin, 14 Agustus 2017

mitos jajahan


masa berganti
tapi ide tidak
masih menghamba pada tuan lama
berjubah cendekia
tapi dalamnya gelap
sekelam masa tanpa peradaban
hanya titah
mitos mitos
disulap seolah kemajuan
yang berbicara diluar mitos mitos itu
atau mendirikan mitos baru
serta merta dicerca
dihardik
didakwa membual
padahal mitos mitos itu
mitos tentang sejarah itu
warisan bangsa kulit putih
yang dulu dengan sombongnya mengangkangi nusantara
percaya pada mitos mitos itu
berarti menghamba pada bangsa penjajah
tapi itulah penyakit kita
entah kenapa manusia yang mengaku merdeka
terlampau setia pada penyakit itu
tanyalah pada dirimu
wahai pengagum kolonialisme tanpa sadar


ZaEnal Abidin RiAm, Agustus 2017

Jumat, 11 Agustus 2017

Islam dan Bangsa Dalam Satu Kesatuan


Sejarah relasi Islam dan bangsa memang tak selalu harmonis, ada masa pasang surut dalam relasinya. Meski beragam, Indonesia merupakan negara yang penghuninya mayoritas beragam islam, Islam telah sangat mengakar di Indonesia, oleh rakyat Indonesia yang beragama islam, agama ini tidak sekadar diperlakukan sebagai agama formal, melainkan juga sebagai nilai yang mempengaruhi aspek privat masyarakat Indonesia, membicarakan Indonesia tanpa membicarakan Islam adalah hal mustahil, hal tersebut merupakan pengabaian terhadap realitas mayoritas di nusantara, sebaliknya, membicarakan Islam tanpa menyinggung Indonesia juga terbilang naif, hal tersebut mengabaikan fakta bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.
Dinamika keislaman yang nampak di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri, bila dikaitkan dengan bangsa, mayoritas cara pandang berislam di Indonesia tak mempertentangkan antara Islam dan bangsa, fakta tersebut semakin nyata saat kita bersikap terbuka terhadap realitas sejarah perjuangan kemerdekaan, kaum santri dan ulama memiliki andil besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, perjuangan tersebut dilandasi oleh kesadaran berislam, kesadaran bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah jihad mulia, sehingga tak diherankan bila ulama di masa itu mengeluarkan resolusi jihad guna mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Fakta ini bisa menjadi dasar bahwa secara historis umat Islam di Indonesia meyakini dirinya sebagai satu kesatuan dengan Indonesia.
Bila merujuk kepada Al qur’an sebagai sumber ajaran Islam, maka kita akan menjumpai bahwa dalam Al Qur’an sendiri ada sekitar 322 ayat yang membincang tentang bangsa dalam konteks positif. Fakta ini kiranya bisa menjadi landasan ideologis untuk memahami bahwa Islam dan bangsa adalah satu kesatuan. Dengan memahami fakta ini maka akan menghilangkan keraguan bahwa bangsa seolah merupakan barang haram dalam Islam, pada bagian lain, fakta ini juga bisa menjadi bekal untuk meletakkan paradigma yang utuh dan harmonis antara Islam dan bangsa.
Tentu kita juga harus bersikap kritis terhadap paham kebangsaan, sebab realitasnya tak semua paham kebangsaan sejalan dengan semangat Islam, mesti ditegaskan bahwa paham kebangsaan yang terlampau ekstrim tak sejalan dengan semangat Islam, paham kebangsaan semacam ini sangat dipengaruhi oleh unsur chauvinisme, sebuah paham yang melakukan pemujaan berlebihan terhadap bangsa, paham ini justru tidak produktif, lebih jauh paham ini bisa merusak solidaritas kemanusiaan, paham kebangsaan model ini justru berpotensi melahirkan rasisme, paham kebangsaan ini pernah melanda Jerman di era NAZI, dan umat manusia telah melihat akibat merusak yang ditimbulkannya, paham kebangsaan jenis ini pula yang mempengaruhi Zionisme Israel, dan dunia masih melihat akibat brutal yang ditimbulkannya.
Paham kebangsaan yang berlaku di Indonesia harus proporsional, terbuka dan sesuai dengan budaya Indonesia. kiranya paham kebangsaan model ini yang sejalan dengan semangat keislaman, paham kebangsaan seperti ini pula yang menjadikan para ulama di masa perjuangan fisik kemerdekaan meyakini bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah bagian dari iman. Sejarah akan terus bergulir, ujian terhadap perpaduan Islam dan bangsa dalam konteks Indonesia akan terus diuji, bagi generasi yang mulai ragu dengan perpaduan Islam dan bangsa, maka perlu kiranya menyelami kembali pandangan ulama yang terlibat langsung dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Penulis: Zaenal Abidin Riam
Ketua Komisi Intelektual dan Peradaban PB HMI MPO 2015 - 2017 M


Kamis, 20 Juli 2017

Generasi Android dan Hilangnya Waktu Produktif


Generasi masa kini biasa disebut generasi android, sebuah model generasi yang kesehariannya hampir tak pernah lepas dari perangkat android, bagi generasi ini android merupakan bagian dari kehidupan mereka, generasi ini sesungguhnya merupakan generasi sibuk, dalam artian sibuk bercengkrama dengan perangkat android di ujung jari atau di depan matanya. Mereka akan merasa terganggu bila dalam hitungan menit saja tak bersentuhan dengan android, walaupun itu hanya sekadar mengecek status di dunia maya. Bagi para orang tua dan pendidik, kehadiran generasi android tak mungkin dinafikan, terlepas dari aspek negatifnya, generasi ini tak bisa dipaksa menghilangkan interaksinya dengan perangkat android dalam kehidupannya, kiranya ini merupakan tantangan tersendiri bagi orang tua dan pendidik.

Bagi generasi android, yang menganggap bahwa persentuhan dengan android adalah sesuatu yang wajib, kehidupan mereka dalam sehari praktis lebih banyak dihabiskan dengan berselancar di dunia maya, tak peduli kapan dan dimanapun tempatnya, bahkan seringkali saat mereka sedang dituntut fokus kepada hal lain yang sedang dijalani, sebagian waktu dalam momen tersebut justru dicuri guna bermain di media sosial. Generasi ini dalam banyak sisi memperlihatkan ketidakmampuan mereka mengontrol kegilaannya terhadap android, sering pula apa yang diutak-atik di depan jari mereka bukan hal yang bermanfaat, bahkan beberapa diantaranya terang negatif, namun mereka tetap merasa mendapat kesenangan dari aktivitas tersebut, sebuah hal yang tak baik bagi kehidupan mereka.

Efek negatif paling nyata dari kegilaan terhadap android adalah hilangnya waktu produktif, hilangnya waktu yang seharusnya dipakai mengembangkan kualitas diri, lenyapnya momen yang seharusnya difungsikan untuk melakukan kerja yang lebih besar. Secara sederhan bisa kita renungkan bersama, bila seorang yang berasal dari generasi ini mencurahkan hampir semua hidupnya dalam sehari untuk berselancar di dunia maya, dan itu lebih banyak berhubungan dengan upaya mengecek media sosial, maka kapan waktu mereka untuk belajar? Kapan waktu mereka untuk membaca buku? Kapan waktu mereka untuk melatih kreatifitas dirinya? Kata “kegilaan” terpaksa saya gunakan dalam tulisan ini, pertimbangannya sederhana, saat generasi ini sedang makan dan minum, yang merupakan dua dari beberapa aktifitas utama manusia, mereka masih tetap bercengkrama dengan layar di depan matanya sambil mengunyah dan menyeruput, bahkan tak jarang dari mereka lupa waktu makan hanya karena asyik berselancar di dunia maya, bukankan ini sesuatu yang gila? Jika kebutuhan primer saja rela mereka abaikan apalagi yang hanya sekunder.

Generasi android seharusnya mampu membuat mekanisme kontrol dalam dirinya, hal ini penting agar android benar-benar berimplikasi positif bagi generasi ini, akan tetapi kesadaran kontrol susah diharapkan lahir secara sadar dari diri mereka, perlu ada keterlibatan pihak luar, pada bagian ini peran orang tua dan pendidik sangat diharapkan, orang tua sebagai pihak yang berinteraksi dengan anak perlu mengatur waktu produktif sang anak, anak tidak harus dilarang berselancar di dunia maya, karena disana juga ada ragam hal positif, orang tua hanya perlu mengupayakan agar waktu produktif anaknya tak habis hanya untuk sekadar mengecek media sosial. Sementara itu di lingkungan sekolah, pendidik harus memastikan bahwa sekolah benar-benar menjadi tempat belajar bagi siswa, bahwa semua momen dalam jam sekolah digunakan untuk hal yang berkaitan dengan pembelajaran, hal yang berkaitan dengan pengembangan kreatifitas diri, larangan mengaktifkan handphone selama jam sekolah menjadi relevan dalam kasus ini, karena bagi generasi android, interaksi dengan perangkat android paling banyak dilakukan melalui handphone.

Penulis: Zaenal Abidin Riam
Ketua Komisi Intelektual dan Peradaban PB HMI MPO 2015-2017 M

Idul Fitri dan Dilema Kemenangan


Ramadhan baru saja berlalu, umat islam menjalankan puasa selama sebulan penuh, lalu ditutup dengan perayaan Idul Fitri, momen yang dianggap sebagai perayaan kemenangan, kemenangan terhadap diri sendiri dan di luar diri. Bagi umat islam puasa merupakan salah satu ibadah utama, ajang untuk melatih diri, dan sebagaimana lazimnya, setiap latihan pasti menyisakan predikat lulus dan tidak lulus, yang paling tahu lulus dan tidak lulusnya seseorang dalam menjalani latihan adalah dirinya sendiri dan Tuhannya, kelulusan itulah yang dirayakan dalam momen idul fitri, lulus berarti merasa menang.
Pada dasarnya tidak semua orang yang merayakan Idul Fitri adalah manusia pemenang, yang kalahpun merayakan momen tersebut, disini letak pentingnya mengevaluasi perasaan menang kita, mungkinkah kita benar-benar menang atau tidak, caranya sangat sederhana, cukup mengevaluasi ibadah kita selama ramadhan, total atau tidak. Pemenang sejati dari ramadhan tidak akan pernah merasa menang, justru sebaliknya, mereka akan selalu merasa kalah, mereka akan selalu merasa ibadahnya jauh dari maksimal selam ramadhan, walupun di mata orang lain ibadahnya dianggap sudah sangat maksimal. Jadi sebaiknya berhati-hatilah dengan perasaan menang di hari idul fitri, boleh jadi itu pertanda kekalahan yang nyata.
Perasaan menang di hari fitri perlu dievaluasi kembali, lebih jauh kita patut bertanya, apa yang kita menangkan ? pertanyaan ini menjadi urgen khususnya saat dikaitkan dengan substansi tujuan puasa, yakni latihan mengendalikan hawa nafsu secara utuh, bila kita membuka cara pandang secara lebih luas, maka akan dijumpai realitas bahwa nafsu masih menjadi pemenang setelah ramadhan, buktinya kemiskinan masih merajalela, keserakahan terhadap kekuasaan masih kuat, ketidakadilan masih nyata, serta jenis pemandangan pahit lainnya, bukankah semua pemandangan tersebut merupakan konsekuensi dari berkuasanya nafsu. Hasrat menumpuk harta secara berlebihan sambil mematikan rasa kepedulian terhadap sesama melahirkan kemiskinan, ambisi kekuasaan yang tidak terkontrol melahirkan keserakahan terhadap kekuasaan, menempatkan kepentingan di atas apapun menyebabkan lahirnya ketidakadilan.
Pemahaman terhadap kontrol hawa nafsu perlu diperluas, bukan hanya kontrol terhadap nafsu pribadi, tetapi juga kontrol terhadap nafsu orang lain, mengontrol nafsu pribadi lebih identik dengan menyelamatkan diri sendiri walaupun tidak sepenuhnya benar, membiarkan nafsu orang lain tak terkontrol padahal kita bisa melakukannya berarti membuka peluang lahirnya kemungkaran, sungguh tidak etis membiarkan kemungkaran bersolek ria selama ramadhan, mereka yang mampu mengontrol nafsunya dan membantu orang lain mengontrol nafsunya, boleh disebut sebagai pemenang di hari fitri, namun orang seperti ini sudah pasti tidak akan merasa dirinya menang, justru mereka selalu merasa kalah.
Idul Fitri seharusnya dilihat sebagai momen ekspresi syukur, yang berpuasa maksimal bersyukur mampu melakukannya, sedangkan yang belum mampu berpuasa maksimal juga bersyukur setidaknya masih dipertemukan dengan Idul Fitri, bagi mereka idul fitri menjadi momen evaluasi diri dari ketidakmaksimalan puasanya. Jadi levelnya diturunkan satu tingkat, bukan lagi soal kemenangan, sebab sepertinya kemenangan bukan maqam manusia awam, tetapi kesyukuran, syukur lebih bisa dijangkau oleh manusia awam.
Penulis: Zaenal Abidin Riam


merayakan apa?


katamu hari ini kita menang
dari perang panjang dengan tiga puluh biji hari
perang yang tak mengenal waktu
ditabuh di setiap ujung jarum jam
menang...hari kemenangan
entahlah
baiknya periksa dirimu di tiga puluh hari lalu
merasa menang dan pemenang sejati sering susah dibedakan
di hari yang menurutmu kemenangan
dirayakan oleh orang yang merasa menang
adapun pemenang sejati, kulihat mereka merasa kalah
kalah sekalah-kalahnya
tangisnya tumpah
meratapi lenanya di detik-detik krusial
sambil memohon
memohon dengan setulusnya permohonan
agar dipertemukan dengan medan perang itu lagi
mungkin untuk merasa kembali kalah
lalu siapa yang merayakan kemenagan itu
kemenangan apa yang mereka rayakan
jawablah saat kau bisa fokus ke Rabbmu

ZaEnal Abidin RiAm, Syawal 1438

Selasa, 20 Juni 2017

Media Mainstream dan Media Sosial Dalam Pertarungan Dominasi Opini Publik

Dunia masa kini ditandai dengan munculnya dinamika baru dalam realitas media, dinamika yang mempertegas bahwa media arus utama, tidak lagi sepenuhnya bertindak sebagi pembentuk dan pengontrol opini, dinamika tersebut nampak jelas dengan tumbuhnya media sosial, khusus di Indonesia, media sosial menjadi tren yang sangat diminati masyarakat, penggunanya tidak hanya terbatas pada kaum terpelajar, masyarakat awam juga beramai–ramai menggunakannya, jika dulu rujukan informasi terbatas pada beberapa media mainstream, maka sekarang hal tersebut tak berlaku lagi, media sosial menjadi pilihan alternatif dalam merujuk informasi, selain mudak diakses, biayanyapun sangat murah meriah, tinggal beli paket internet atau sisihkan uang sekian ribu di warnet.

Untuk konteks Indonesia, ada beberapa kasus nyata diaman aksi masyarakat dibentuk lewat opini di media sosial, aksi solidaritas pengumpulan koin untuk Prita Mulyasari adalah salah satu contoh nyatanya, kemampuan media sosial, dalam bertindak sebagai pembanding opini terhadap media mainstream, memang sangat masuk akal, sebelumnya masyarakat menjadikan media mainstream sebagai rujukan utama informasi, karena saat itu mereka tidak punya alternatif lain, namun dengan munculnya media sosial, alternatif rujukan informasi menjadi sangat beragam, di samping itu, media sosial juga tidak mengenal prinsip rating guna memburu keuntungan, ini yang menyebabkan semua jenis berita bisa muncul di media sosial, di sana tak ada otoritas yang berhak menyeleksi berita, lain halnya dengan media mainstream, aspek untung rugi dalam pemberitaan selalu ada, khususnya kepentingan dalam mengejar rating.

Jika diamati secara seksama, media arus utama menyadari gejala baru ini, hal itu bisa kita lihat dengan pembuatan akun resmi medsos bagi setiap media mainstream, lebih jauh lagi, sekarang beberapa stasiun TV, menyediakan program berita atau talk show, yang isinya dirujuk dari opini yang berkembang di media sosial, pada posisi ini sangat jelas terlihat tarik ulur pembentukan opini antara media mainstream dan medsos, pada sisi lain, tindakan ini bisa juga dibaca sebagai upaya media mainstream, guna mempertahankan hegemoninya sebagai penguasa opini, melalui akun resmi tersebut, media mainstream mampu mempublikasikan beritanya dalam format situs online, lalu berita tersebut akan menjadi konsumsi para netizen di media sosial, dalam batas tertentu kalkulasi tersebut ada benarnya, namun yang perlu diingat, tak semua berita tersebut mampu menjadi perbincangan utama di medsos, sebagian bahkan tidak mendapat ruang, bahkan banyak juga perbincangan hangat para warga medsos, yang tidak berasal dari informasi media mainstream yang dibagi ke medsos, topik tersebut lebih merupakan kreasi para warga media sosial.

Adanya kesempatan sama bagi semua orang, untuk menjadi pemberi informasi di media sosial, bukan berarti tak menyisakan kekurangan, karena tak ada otoritas yang memverifikasi, sehingga peluang munculnya informasi bohong juga terbuka, namun ini bukan alasan untuk mencibir media sosial, media jenis apapun pasti punya kelebihan dan kekurangan, yang dibutuhkan dalam hal ini adalah kecermatan, warga medsos harus cermat memutuskan, informasi mana yang bisa diterima, serta informasi mana yang perlu ditolak, informasi yang beredar di dunia maya tidak bisa dipercaya begitu saja, kita juga perlu menelusurinya terlebih dahulu, sikap ini yang belum sepenuhnya dipraktikkan para netizen.

Terlepas dari kekurangan yang ada, secara fakta, media sosial mampu mengikis dominasi total media mainstream, khususnya dalam pembentukan opini massa, walaupun memang tidak dalam setiap kesempatan, pertarungan pengaruh opini antara media mainstream dan media sosial, adalah realitas media yang tak bisa dinafikkan di era ini, munculnya media sosial juga perlu dipandang positif, khususnya bagi keberlangsungan  informasi yang sehat, sebab pada dasarnya, semakin banyak rujukan informasi, semakin kaya pula perspektif saat menganalisa masalah dalam informasi tersebut, bila perspektif semakin kaya, maka kita juga akan lebih selektif dalam memilih informasi, kita hanya perlu melihat, siapa yang aka
n lebih berpengaruh ke depan, apakah media mainstream? atau justru media sosial?


Penulis: Zaenal Abidin Riam
Ketua Komisi Intelektual dan Peradaban PB HMI MPO 2015 - 2017 

kesombongan itu

diri begitu angkuh
merasa paling berkuasa
dihadapan pemilik kuasa
anugerah dari-Nya dianggap buatannya
yang dititipi kuasa merasa pemilik kuasa, naif
tidakkah diri belajar pada dongeng kekuasaan
bahwa kuasa susah didapatkan tapi mudah lepas
nafsu menjadi tuhan baru
dipuja manusia
disanjung
seolah dengan nafsu dirinya kekal
ya mungkin kekal
tapi di dunia hitam
tempat pembunuhan jadi pemandangan lumrah
pembunuhan yang tak menumpahkan darah
tapi menikam hati dan akal sehat

kesombongan itu
seolah milikmu
padahal hanya milik-Nya
kesombongan itu
pasti kau tak bisa menanggungnya
sebab memang bukan milikmu

ZaEnal Abidin RiAm, Juni 2017

GERAKAN

KOMUNITAS

Serba-serbi

 
Copyright © 2013 Pemikiran dan Sastra
Design by FBTemplates | BTT