BREAKING

PEMIKIRAN

SASTRA

Latest Posts

Minggu, 08 Oktober 2017

awal masa




Benamkan pujaan
Hingga ke titik tak berangka
Agar musnah ego
Lebur keangkuhan
Dalam dekapan kasih sang pecinta...
Hiduplah diri diri baru
Mekarlah hati baru
Dalam wadah kasih
Yang tak lahir dari kata kata
Tak wujud dari kalimat kalimat
Sebab semua itu kebohongan cantik
Kita generasi baru
Walau muncul di zaman karat
Era pemujaan pada sang semu
Kita generasi pandai berkata
Tapi tak menjual kata
Memahami makna
Tapi tak berdagang makna



ZaEnal Abidin Riam, Muharram 1439

Islam Yang Lupa Tradisi


Banyak orang islam sering salah memahami tradisi, bagi mereka tradisi lebih dipahami sebagai hal yang bersifat lampau, sesuatu yang telah kehilangan relevansinya dengan masa kini, menganut tradisi berarti melarutkan diri pada khayalan masa lalu, dan hal itu justru menyebabkan kemunduran, ragam persepsi tersebut menandakan pemahaman yang sempit terhadap makna tradisi. Tradisi sesungguhnya merupakan sebuah identitas, suatu komunitas terlepas apapun afiliasi komunitasnya yang tak memiliki tradisi sendiri menandakan bahwa komunitas telah kehilangan identitas, bila kehilangan identitas maka dia cenderung untuk meniru komunitas lain, peroses peniruan menyebabkan komunitas peniru selalu tertinggal dari komunitas yang ditiru, pada posisi ini komunitas tersebut gagal menjadi dirinya sendiri.

Jika berkaca kepada fakta sejarah, Islam memiliki tradisi besar di masa lampau, tradisi besar tersebut merupakan pencapaian besar dari peradaban islam, tradisi besar Islam tersebar pada wilayah pemikiran, gerakan, dan hal lainnya yang menjadi penyokong peradaban islam, bila mau lebih jujur lagi, peradaban barat modern banyak meminjam tradisi besar Islam untuk membentuk peradabannya, sebagian cendekiawan barat terbuka mengakui fakta ini. Tradisi pemikiran dan gerakan dalam dunia islam terbukti membuat umat maju di masa lampau khususnya di masa abad islam klasik, patut disayangkan karena banyak umat islam yang tidak mengetahui fakta ini, dan kalau tahu maka pengetahuannya terbatas pada bagian yang bersifat umum saja, kondisi ini menandakan generasi islam masa kini masih banyak yang belum melakukan telaah sejarah secara serius terhadap warisan tradisi besar dalam Islam.

Umat islam sering terjangkit virus inferior, dihadapan peradaban barat modern mereka merasa terlalu rendah, perasaan seperti ini menyebabkan umat menjadi pengagum setia peradaban barat dengan segala penyimpangan yang menyertainya, akibat terjauhnya umat rawan terjebak pada westernisasi, mencoba menjadi barat dengan menghilangkan tradisi islamnya. Umat sepertinya lupa, bahwa untuk memahami sebuah peradaban secara utuh, maka kita harus menelaah bagian pembentuk dasar dari peradaban tersebut, ini dibutuhkan untuk menganalisa muasal sebuah peradaban, dengan cara apa peradaban itu dibentuk, serta ada tidaknya penyimpangan yang mewarnai peradaban tersebut dari semangat awalnya, bila hal ini serius dilakukan, maka pada bagian ini akan dijumpai fakta bahwa salah satu elemen yang membentuk dasar peradaban barat modern adalah tradisi besar yang berkembang dalam dunia islam, hal tersebut bisa dibuktikan dengan masifnya pelajar dari barat yang berguru pada kampus-kampus besar di dunia islam pada masa kegemilangan peradaban islam, para pelajar tersebut kemudian tertular ide pencerahan yang saat itu masih sangat dimusuhi di barat, mereka menjadi generasi awal yang menyebarkan ide pencerahan di dunia barat, lalu hadir generasi selanjutnya yang menjadikan pemikiran mereka sebagai gerakan pencerahan, disayangkan karena sebagian cendekiawan barat masih malu mengakui fakta ini.

Umat islam harus mengenali kembali tradisinya, generasi islam wajib menelaah kembali tradisi pemikiran dan gerakan yang merupakan warisan besar dunia islam kepada generasi selanjutnya, penelaahan terhadap tradisi tersebut tidak boleh sekadar menjadi pengetahuan, tahu tentang tradisi besar islam tanpa tindak lanjut menyebabkan umat terjebak pada romantisme sejarah belaka, pengetahuan utuh terhadap tradisi besar dalam pemikiran dan gerakan harus memiliki daya menggerakkan, caranya adalah perlu melakukan penafsiran ulang terhadap tradisi tersebut, agar lahir pembacaan terhadap tradisi berdasarkan konteks zaman hari ini, sehingga yang diserap bukan hanya bentuk dari tradisi tersebut, akan tetapi nilai substansi yang ada dalam tradisi tersebut, nilai substansi ini selalu memiliki daya menggerakkan kapan dan dimanapun ia hadir, sebab hanya tradisi yang memiliki daya menggerakkan yang mampu memantik perubahan

Penulis: Zaenal Abidin Riam

Kamis, 28 September 2017

senjata pembunuh generasi


Pedang diayunkan 
Pada leher tak bersalah
Maka tumpahlah darah
Dari kesalahan
Senjata dibidikkan 
Pada tubuh-tubuh tak berdosa
Maka remuklah tubuh
Akibat ulah dosa-dosa
Ketika pedang dan senjata berlomba memangsa
Maka runtuhlah kedamaian
Berkuasalah teror
Dan menanglah rasa takut
Itulah rohingnya
Dalam catatan yang sangat lusuh

ZaEnal Abidin RiAm, september 2017


Minggu, 24 September 2017

Pembusukan Opini Dalam Tragedi Rohingya


Dunia internasional dihebohkan dengan peristiwa yang dialami muslim rohingya di Myanmar, peristiwa tersebut merupakan tamparan keras terhadap nilai kemanusiaan, betapa tidak ratusan muslim rohingya dibantai dalam hitungan hari, pembantaian tersebut mendapatkan dukungan penuh dari negara, negara memanfaatkan instrumen militer, kelompok budha garis keras, serta kelompok geng yang sengaja dibentuk guna memuluskan aksi genosida terhadap muslim rohingya. Akibat pembantaian tersebut, selain ratusan jiwa melayang dalam waktu singkat, ribuan muslim rohingya juga melarikan diri ke negara sekitar Myanmar, sebuah pemandangan yang sungguh mengerikan.

Pembantaian terhadap muslim rohingya masuk kategori genosida, genosida sendiri merupakan kejahatan kemanusiaan terburuk yang sejak lama dikutuk komunitas internasional, bila dirujuk kebelakang, penderitaan yang dialami muslim rohingya memiliki babak sejarah panjang, diskriminasi terhadap muslim rohingya telah terjadi sejak Myanmar merdeka, sejak itu pemerintah Myanmar tidak pernah mau mengakui muslim rohingya sebagai bagian dari penduduk warga negara Myanmar, mereka tak pernah diberi identitas legal, otoritas Myanmar mengklaim bahwa muslim rohingnya bukan orang Myanmar tetapi orang Bangladesh, dengan modal klaim tersebut pemerintah secara masif melakukan pengusiran terhadap muslim rohingya.

Rangkaian tindakan tak berprikemanusiaan yang dilakukan pemerintah Myanmar terhadap muslim rohingya, selalu berupaya diputarbalikkan oleh otoritas setempat, Myanmar berupaya menutupi fakta genosida, mereka berdalih penyerangan terhadap muslim rohingya adalah upaya membasmi terorisme yang memiliki jaringan dengan ISIS, bahkan secara terbuka militer Myanmar meminta dukungan penuh seluruh warganya agar mendukung aksi militer terhadap muslim rohingya, pihak Myanmar selalu bersikukuh bahwa tidak ada pembantaian di Myanmar, mereka menuduh media telah menyebarkan berita hoax tentang situasi di Arakan, pemerintah Myanmar juga berupaya menghalangi media yang ingin menggali informasi secara langsung di Arakan, parahnya lagi para relawan yang ingin meyalurkan bantuan kemanusiaan tidak diberi akses oleh penguasa setempat, ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Myanmar untuk menutupi apa yang sesungguhnya terjadi di rohingya. Pemerintah Myanmar ingin agar semua pihak menggali informasi hanya dari pihak pemerintah, padahal barang tentu informasi tersebut sangat mereduksi fakta yang sesungguhnya. Inilah hoax yang nyata dan terang.

di Negara lain, informasi hoax yang ditebar pemerintah Myanmar cukup mempengaruhi persepsi masyarakat tertentu, minimal mampu mereduksi bahwa peristiwa rohingya sama sekali tak ada kaitannya dengan agama, nuansa seperti ini juga nampak dalam pemberitaan di media nasional tertentu, penggantian istilah “muslim rohingya” menjadi “etnis rohingya” merupakan bagian dari skenario tersebut, cara halus ini seolah ingin menciptakan kesan kepada publik bahwa paling jauh rohingya hanya masalah etnis, tak ada hubungannya dengan masalah agama, tentu hal ini tak berdasar mengingat yang disasar oleh penguasa Myanmar hanya orang islam yang berada di Arakan, di sisi lain kelompok budha garis keras juga memobilisasi pengikutnya untuk melakukan pembantaian terhadap orang-orang rohingya yang notabenenya beragama Islam. Kekhawatiran pihak media tertentu, bahwa ketika nuansa agama diangkat dalam pemberitaan rohingya, maka hal tersebut akan memicu konflik agama di Indonesia, adalah sebuah kekhawatiran yang tidak berdasar,pemberitaan model seperti ini pada dasarnya juga telah mengandung unsur hoax, oleh sebab itu perlu digalakkan kampanye masif tentang apa yang sebenarnya dialami muslim rohingya, agar muncul opini yang benar seputar rohingya.

Zaenal Abidin Riam
Ketua Komisi Intelektual dan Peradaban PB HMI MPO

Senin, 14 Agustus 2017

mitos jajahan


masa berganti
tapi ide tidak
masih menghamba pada tuan lama
berjubah cendekia
tapi dalamnya gelap
sekelam masa tanpa peradaban
hanya titah
mitos mitos
disulap seolah kemajuan
yang berbicara diluar mitos mitos itu
atau mendirikan mitos baru
serta merta dicerca
dihardik
didakwa membual
padahal mitos mitos itu
mitos tentang sejarah itu
warisan bangsa kulit putih
yang dulu dengan sombongnya mengangkangi nusantara
percaya pada mitos mitos itu
berarti menghamba pada bangsa penjajah
tapi itulah penyakit kita
entah kenapa manusia yang mengaku merdeka
terlampau setia pada penyakit itu
tanyalah pada dirimu
wahai pengagum kolonialisme tanpa sadar


ZaEnal Abidin RiAm, Agustus 2017

Jumat, 11 Agustus 2017

Islam dan Bangsa Dalam Satu Kesatuan


Sejarah relasi Islam dan bangsa memang tak selalu harmonis, ada masa pasang surut dalam relasinya. Meski beragam, Indonesia merupakan negara yang penghuninya mayoritas beragam islam, Islam telah sangat mengakar di Indonesia, oleh rakyat Indonesia yang beragama islam, agama ini tidak sekadar diperlakukan sebagai agama formal, melainkan juga sebagai nilai yang mempengaruhi aspek privat masyarakat Indonesia, membicarakan Indonesia tanpa membicarakan Islam adalah hal mustahil, hal tersebut merupakan pengabaian terhadap realitas mayoritas di nusantara, sebaliknya, membicarakan Islam tanpa menyinggung Indonesia juga terbilang naif, hal tersebut mengabaikan fakta bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.
Dinamika keislaman yang nampak di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri, bila dikaitkan dengan bangsa, mayoritas cara pandang berislam di Indonesia tak mempertentangkan antara Islam dan bangsa, fakta tersebut semakin nyata saat kita bersikap terbuka terhadap realitas sejarah perjuangan kemerdekaan, kaum santri dan ulama memiliki andil besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, perjuangan tersebut dilandasi oleh kesadaran berislam, kesadaran bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah jihad mulia, sehingga tak diherankan bila ulama di masa itu mengeluarkan resolusi jihad guna mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Fakta ini bisa menjadi dasar bahwa secara historis umat Islam di Indonesia meyakini dirinya sebagai satu kesatuan dengan Indonesia.
Bila merujuk kepada Al qur’an sebagai sumber ajaran Islam, maka kita akan menjumpai bahwa dalam Al Qur’an sendiri ada sekitar 322 ayat yang membincang tentang bangsa dalam konteks positif. Fakta ini kiranya bisa menjadi landasan ideologis untuk memahami bahwa Islam dan bangsa adalah satu kesatuan. Dengan memahami fakta ini maka akan menghilangkan keraguan bahwa bangsa seolah merupakan barang haram dalam Islam, pada bagian lain, fakta ini juga bisa menjadi bekal untuk meletakkan paradigma yang utuh dan harmonis antara Islam dan bangsa.
Tentu kita juga harus bersikap kritis terhadap paham kebangsaan, sebab realitasnya tak semua paham kebangsaan sejalan dengan semangat Islam, mesti ditegaskan bahwa paham kebangsaan yang terlampau ekstrim tak sejalan dengan semangat Islam, paham kebangsaan semacam ini sangat dipengaruhi oleh unsur chauvinisme, sebuah paham yang melakukan pemujaan berlebihan terhadap bangsa, paham ini justru tidak produktif, lebih jauh paham ini bisa merusak solidaritas kemanusiaan, paham kebangsaan model ini justru berpotensi melahirkan rasisme, paham kebangsaan ini pernah melanda Jerman di era NAZI, dan umat manusia telah melihat akibat merusak yang ditimbulkannya, paham kebangsaan jenis ini pula yang mempengaruhi Zionisme Israel, dan dunia masih melihat akibat brutal yang ditimbulkannya.
Paham kebangsaan yang berlaku di Indonesia harus proporsional, terbuka dan sesuai dengan budaya Indonesia. kiranya paham kebangsaan model ini yang sejalan dengan semangat keislaman, paham kebangsaan seperti ini pula yang menjadikan para ulama di masa perjuangan fisik kemerdekaan meyakini bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah bagian dari iman. Sejarah akan terus bergulir, ujian terhadap perpaduan Islam dan bangsa dalam konteks Indonesia akan terus diuji, bagi generasi yang mulai ragu dengan perpaduan Islam dan bangsa, maka perlu kiranya menyelami kembali pandangan ulama yang terlibat langsung dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Penulis: Zaenal Abidin Riam
Ketua Komisi Intelektual dan Peradaban PB HMI MPO 2015 - 2017 M


Kamis, 20 Juli 2017

Generasi Android dan Hilangnya Waktu Produktif


Generasi masa kini biasa disebut generasi android, sebuah model generasi yang kesehariannya hampir tak pernah lepas dari perangkat android, bagi generasi ini android merupakan bagian dari kehidupan mereka, generasi ini sesungguhnya merupakan generasi sibuk, dalam artian sibuk bercengkrama dengan perangkat android di ujung jari atau di depan matanya. Mereka akan merasa terganggu bila dalam hitungan menit saja tak bersentuhan dengan android, walaupun itu hanya sekadar mengecek status di dunia maya. Bagi para orang tua dan pendidik, kehadiran generasi android tak mungkin dinafikan, terlepas dari aspek negatifnya, generasi ini tak bisa dipaksa menghilangkan interaksinya dengan perangkat android dalam kehidupannya, kiranya ini merupakan tantangan tersendiri bagi orang tua dan pendidik.

Bagi generasi android, yang menganggap bahwa persentuhan dengan android adalah sesuatu yang wajib, kehidupan mereka dalam sehari praktis lebih banyak dihabiskan dengan berselancar di dunia maya, tak peduli kapan dan dimanapun tempatnya, bahkan seringkali saat mereka sedang dituntut fokus kepada hal lain yang sedang dijalani, sebagian waktu dalam momen tersebut justru dicuri guna bermain di media sosial. Generasi ini dalam banyak sisi memperlihatkan ketidakmampuan mereka mengontrol kegilaannya terhadap android, sering pula apa yang diutak-atik di depan jari mereka bukan hal yang bermanfaat, bahkan beberapa diantaranya terang negatif, namun mereka tetap merasa mendapat kesenangan dari aktivitas tersebut, sebuah hal yang tak baik bagi kehidupan mereka.

Efek negatif paling nyata dari kegilaan terhadap android adalah hilangnya waktu produktif, hilangnya waktu yang seharusnya dipakai mengembangkan kualitas diri, lenyapnya momen yang seharusnya difungsikan untuk melakukan kerja yang lebih besar. Secara sederhan bisa kita renungkan bersama, bila seorang yang berasal dari generasi ini mencurahkan hampir semua hidupnya dalam sehari untuk berselancar di dunia maya, dan itu lebih banyak berhubungan dengan upaya mengecek media sosial, maka kapan waktu mereka untuk belajar? Kapan waktu mereka untuk membaca buku? Kapan waktu mereka untuk melatih kreatifitas dirinya? Kata “kegilaan” terpaksa saya gunakan dalam tulisan ini, pertimbangannya sederhana, saat generasi ini sedang makan dan minum, yang merupakan dua dari beberapa aktifitas utama manusia, mereka masih tetap bercengkrama dengan layar di depan matanya sambil mengunyah dan menyeruput, bahkan tak jarang dari mereka lupa waktu makan hanya karena asyik berselancar di dunia maya, bukankan ini sesuatu yang gila? Jika kebutuhan primer saja rela mereka abaikan apalagi yang hanya sekunder.

Generasi android seharusnya mampu membuat mekanisme kontrol dalam dirinya, hal ini penting agar android benar-benar berimplikasi positif bagi generasi ini, akan tetapi kesadaran kontrol susah diharapkan lahir secara sadar dari diri mereka, perlu ada keterlibatan pihak luar, pada bagian ini peran orang tua dan pendidik sangat diharapkan, orang tua sebagai pihak yang berinteraksi dengan anak perlu mengatur waktu produktif sang anak, anak tidak harus dilarang berselancar di dunia maya, karena disana juga ada ragam hal positif, orang tua hanya perlu mengupayakan agar waktu produktif anaknya tak habis hanya untuk sekadar mengecek media sosial. Sementara itu di lingkungan sekolah, pendidik harus memastikan bahwa sekolah benar-benar menjadi tempat belajar bagi siswa, bahwa semua momen dalam jam sekolah digunakan untuk hal yang berkaitan dengan pembelajaran, hal yang berkaitan dengan pengembangan kreatifitas diri, larangan mengaktifkan handphone selama jam sekolah menjadi relevan dalam kasus ini, karena bagi generasi android, interaksi dengan perangkat android paling banyak dilakukan melalui handphone.

Penulis: Zaenal Abidin Riam
Ketua Komisi Intelektual dan Peradaban PB HMI MPO 2015-2017 M

GERAKAN

KOMUNITAS

Serba-serbi

 
Copyright © 2013 Pemikiran dan Sastra
Design by FBTemplates | BTT