BREAKING

PEMIKIRAN

SASTRA

Latest Posts

Senin, 23 Oktober 2017

Benarkah Local Wisdom Mengandung Local Crime?


Sejak istilah local wisdom absah diterima sebagai pembahasan yang sah dalam ranah akademik, beragam reaksi bermunculan, banyak yang mengapresiasi, namun tak sedikit pula yang mengkritik. Tulisan ringkas ini bermaksud membedah kritik yang menghampiri istilah local wisdom atau kearifan lokal, bila berkaca kepada asal usul munculnya istilah local wisdom, maka akan dijumpai kenyataan bahwa local wisdom erat kaitannya dengan wacana postmodernisme, postmodernisme sendiri merupakan diskursus yang muncul sebagai reaksi modernisme, postmodernisme menentang penyeragaman berpikir ala modernisme, postmodernisme menentang pemberangusan diskursus lokal yang hidup di tengah masyarakat. tradisi yang merupakan diskursus lokal dalam sebuah komunitas oleh modernisme dianggap sebagai penghambata kemajuan, oleh sebab itu harus didobrak lalu ditinggalkan, sebaliknya postmodernisme memandang tradisi sebagai identitas unik sebuah masyarakat yang mengkonstruk tatanan kehidupan dalam masyarakat tersebut, oleh sebab itu perlu dipertahankan, dalam perjalanannya penentang local wisdom seringkali merupakan pengikut setia pikiran modernisme, hal ini tentu tak mengherankan.

Salah satu kritik yang sering dialamatkan kepada local wisdom adalah local wisdom dianggap mengandung local crime, menurut kritik ini ada prilaku kejahatan tersembunyi dalam praktik local wisdom, kejahatan tersebut terus langgeng dengan menggunakan jubah local wisdom, dalam banyak kasus local wisdom ditengarai memelihara nalar kekuasaan yang menguntungkan kelompok tertentu sekaligus merugikan kelompok lain, analisis yang dipakai biasanya merupakan turunan buah pikir modernisme dengan perangkat positivisme logis, untuk lebih memperjelas mari ambil contoh kasus dalam masyarakat NTT, dalam masyarakat tersebut ada sebuah tradisi yang mengharuskan istri yang mengandung untuk mengambil tempat tersendiri selama empat puluh hari, selama itu sang istri tidak bercengkrama seperti biasanya bersama suaminya, juga tidak diperbolehkan mengkonsumsi daging, bagi pengkritik local wisdom, tradisi ini dianggap sebagai ekspresi penegasan kekuasaan laki-laki atas perempuan, perempuan juga dianggap tertindas dalam konteks ini karena terhalang memberi nutrisi maksimal terhadap anak dalam kandungannya, sekilas kritik ini tampak ampuh, namun bila dibedah lebih lanjut kritik semacam ini terkesan prematur dan terlampau menyederhanakan.

Ketika perangkat positivisme logis dipaksakan membedah local wisdom, maka sesungguhnya disana telah terjadi penghakiman sejak awal, sesungguhnya disana sejak awal telah terjadi pejajahan gaya berpikir, kolonialisasi paradigma, dan modernisme memang akrab dengan kolonialisasi paradigma, kesalahan yang terjadi sejak awal dalam kasus ini adalah pemaksaan rasio untuk menjadi standar kebenaran bagi semua realitas, termasuk realitas local wisdom, modernisme selalu abai bahwa setiap realitas punya standar kebenaran tersendiri, local wisdom memiliki standar kebenaran tersendiri yang hanya bisa dipahami berdasarkan standar tersebut, pada titik ini modernisme terkesan sangat otoriter, otoritarianisme dihidupkan secara tak sadar, dan itu bertentangan dengan prinsip dasar rasionalisme, ini merupakan kontradiksi kasat mata dalam tubuh modernisme, jadi yang terjadi sesungguhnya adalah kontradiksi yang dirawat dalam tubuh modernisme berupaya ditularkan kepada realitas lain, suatu prilaku yang sangat irasional, nilai irasional inilah yang berupaya diimpor kepada semua realitas.

Kesalahan selanjutnya dari pengkritik local wisdom adalah kelalaian mereka memandang local wisdom secara utuh, mereka cenderung memandang local wisdom dalam konteks norma atau bentuk, akibatnya perhatiannya hanya terpusat pada aspek luar suatu tradisi yang telah menjadi local wisdom, tidak menukik lebih dalam hingga menyentuh substansi, padahal di bagian ini nilai sebuah tradisi bersemayam, karena hanya menyentuh aspek luar akibatnya anggapan yang muncul bahwa yang ditransformasikan dalam sebuah tradisi adalah bentuk dari tradisi itu, padahal sesungguhnya yang ditransformasikan ke generasi selanjutnya bukan bentuk dari tradisi itu, akan tetapi nilai dari tradisi itu, bentuk bisa berubah tapi nilai tak harus selalu berubah, dan walaupun berubah, maka nilai baru yang datang belum tentu lebih benar dan lebih baik dari nilai lama, nilai modernisme yang muncul belakangan belum tentu lebih benar dan lebih baik dari nilai local wisdom, apalagi bila transformasi nilai tersebut ditempuh melalui jalur pemaksaan paradigma, ini adalah bagian dari tindakan kejahatan intelektual.

Penulis: Zaenal Abidin Riam 

sisa-sisa


Dan hidup ini
Kadang bertaruh memperebutkan butir pasir
Dalam pagi yang begitu buta
Lalu tampa sadar terperosok
Dalam, sangat dalam

Pada lubang hitam kehidupan
Lalu kesadaran datang
Pada masa sia-sia dan sisa-sisa
Disitulah diri terhenti
Dengan membenci kebijaksanaan


ZaEnal Abidin RiAm, Oktober 2017

Modern Bukan Hak Monopoli Barat


Sejak lahirnya revolusi pemikiran di Prancis dan revolusi industri di Inggris, dunia dianggp memasuki zaman baru, zaman tersebut kini dikenal dengan zaman modern, sebab pemicunya lahir di dua negara yang berada di kawasan Eropa akhirnya istilah modern selalu dinisbatkan kepada barat, buntut dari asumsi ini adalah modern seolah menjadi hak milik barat, segala yang berkaitan komederenan selalu dikaitkan dengan barat. Dari sisi umat islam efek penetapan modern sebagai hak milik barat minimal memunculkan dua akibat, pertama sikap inferior dihadapan barat, kedua penolakan terhadap segala hal yang berasal dari barat, dua-duanya tak ada yang menguntungkan untuk kemajuan Islam.

Akibat pertama lahir sebagai reaksi perasaan keterbelakangan terhadap barat, sebagaimana dipahami modern identik dengan kemajuan, bila modern dimonopoli oleh komunitas tertentu, maka kemajuan seolah menjadi hak milik pribadi komunitas tersebut, malangnya kelompok manusia yang berada di luar komunitas tersebut seolah belum menjadi pemeran kemajuan, mereka selalu ditempatkan sebagai komunitas kelas dua yang berada di belakang pemeran utama kemajuan, mereka dituntut untuk mengikuti keinginan komunitas yang mengklaim diri sebagai pemeran utama kemajuan, dalam perjalanannya label ini secara sengaja terus dihidupkan, yang muncul kemudian adalah kondisi vis a vis antara yang dianggap modern dan tidak modern, pada posisi ini modernisme sesungguhnya gagal memenuhi tugas idealnya sebagai penyebar kemajuan, mengajak sebuah komunitas mengecap kemajuan secara bersama dengan cara menempatkannya di belakang merupakan jalan keliru menuju kemajuan.

Adapun akibat kedua tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang kolonialisme Eropa ke wilayah Islam, selama proses penjajahan tersebut terjadi perampasan sumber daya alam dan penghancuran tradisi islam, hal ini tentu memicu kebencian mendalam terhadap barat, akibatnya di kemudian hari walaupun mereka telah merdeka kebencian terhadap barat tetap terpelihara, dampaknya segala sesuatu yang datang dari jantung peradaban barat akan ditolak secara mentah-mentah.

Jika ingin jujur pada fakta sejarah, sebenarnya modern bukan merupakan hak monopoli barat, modern berikut segala perangkat yang menyertainya selalu hadir dalam setiap peradaban yang paling maju dalam setiap masa. Ukuran modern ada dua yakni kekinian dan kemajuan, kekinian dan kemajuan pernah hadir dalam berbagai peradaban dari masa yang berbeda, kekinian dan kemajuan pernah berkembang pesat dalam peradaban Yunani, Yunani menjadi corong kemoderenan di masa itu, ragam karya pemikiran dan corak kehidupan yang dianggap paling maju pada zamannya tumbuh subur dalam peradaban Yunani. Peradaban Islam juga pernah menjadi pusat kemoderenan, aktifitas keilmuan yang tumbuh subur dalam dunia islam merupakan model pemikiran paling terkini dan paling maju untuk ukuran zamannya, ragam penemuan mutakhir lahir dari peradaban ini, hal tersebut menjadi magnet bagi orang-orang di luar dunia islam untuk datang berguru, termasuk para pelajar dari dunia barat yang waktu itu ramai menimba ilmu di berbagai pusat pendidikan ternama dalam dunia islam. kendali kemoderenan juga pernah dipegang oleh peradaban timur, mereka sangat maju dalam berbagai aspek untuk ukuran di masa itu.

Fakta sejarah yang ada seharusnya menyadarkan umat manusia bahwa kemoderenan tidak akan bertahan selamanya dalam komunitas tertentu saja, alur kehidupan manusia membuktikan bahwa sejarah ukuran paling modern selalu berganti dari peradaban yang satu ke peradaban lainnya, kemoderenan akan menjadi hak milik siapa saja yang paling giat menjalankan aktifitas pemikiran dan penemuan teknologi, siklus modern akan terus berputar, mencari tempat yang paling nyaman dan menyediakan bekal hidupnya, yakni aktifitas pemikiran yang tumbuh subur dan penciptaan teknologi mutakhir yang berkelanjuutan.

Penulis: Zaenal Abidin Riam

Minggu, 08 Oktober 2017

awal masa




Benamkan pujaan
Hingga ke titik tak berangka
Agar musnah ego
Lebur keangkuhan
Dalam dekapan kasih sang pecinta...
Hiduplah diri diri baru
Mekarlah hati baru
Dalam wadah kasih
Yang tak lahir dari kata kata
Tak wujud dari kalimat kalimat
Sebab semua itu kebohongan cantik
Kita generasi baru
Walau muncul di zaman karat
Era pemujaan pada sang semu
Kita generasi pandai berkata
Tapi tak menjual kata
Memahami makna
Tapi tak berdagang makna



ZaEnal Abidin Riam, Muharram 1439

Islam Yang Lupa Tradisi


Banyak orang islam sering salah memahami tradisi, bagi mereka tradisi lebih dipahami sebagai hal yang bersifat lampau, sesuatu yang telah kehilangan relevansinya dengan masa kini, menganut tradisi berarti melarutkan diri pada khayalan masa lalu, dan hal itu justru menyebabkan kemunduran, ragam persepsi tersebut menandakan pemahaman yang sempit terhadap makna tradisi. Tradisi sesungguhnya merupakan sebuah identitas, suatu komunitas terlepas apapun afiliasi komunitasnya yang tak memiliki tradisi sendiri menandakan bahwa komunitas telah kehilangan identitas, bila kehilangan identitas maka dia cenderung untuk meniru komunitas lain, peroses peniruan menyebabkan komunitas peniru selalu tertinggal dari komunitas yang ditiru, pada posisi ini komunitas tersebut gagal menjadi dirinya sendiri.

Jika berkaca kepada fakta sejarah, Islam memiliki tradisi besar di masa lampau, tradisi besar tersebut merupakan pencapaian besar dari peradaban islam, tradisi besar Islam tersebar pada wilayah pemikiran, gerakan, dan hal lainnya yang menjadi penyokong peradaban islam, bila mau lebih jujur lagi, peradaban barat modern banyak meminjam tradisi besar Islam untuk membentuk peradabannya, sebagian cendekiawan barat terbuka mengakui fakta ini. Tradisi pemikiran dan gerakan dalam dunia islam terbukti membuat umat maju di masa lampau khususnya di masa abad islam klasik, patut disayangkan karena banyak umat islam yang tidak mengetahui fakta ini, dan kalau tahu maka pengetahuannya terbatas pada bagian yang bersifat umum saja, kondisi ini menandakan generasi islam masa kini masih banyak yang belum melakukan telaah sejarah secara serius terhadap warisan tradisi besar dalam Islam.

Umat islam sering terjangkit virus inferior, dihadapan peradaban barat modern mereka merasa terlalu rendah, perasaan seperti ini menyebabkan umat menjadi pengagum setia peradaban barat dengan segala penyimpangan yang menyertainya, akibat terjauhnya umat rawan terjebak pada westernisasi, mencoba menjadi barat dengan menghilangkan tradisi islamnya. Umat sepertinya lupa, bahwa untuk memahami sebuah peradaban secara utuh, maka kita harus menelaah bagian pembentuk dasar dari peradaban tersebut, ini dibutuhkan untuk menganalisa muasal sebuah peradaban, dengan cara apa peradaban itu dibentuk, serta ada tidaknya penyimpangan yang mewarnai peradaban tersebut dari semangat awalnya, bila hal ini serius dilakukan, maka pada bagian ini akan dijumpai fakta bahwa salah satu elemen yang membentuk dasar peradaban barat modern adalah tradisi besar yang berkembang dalam dunia islam, hal tersebut bisa dibuktikan dengan masifnya pelajar dari barat yang berguru pada kampus-kampus besar di dunia islam pada masa kegemilangan peradaban islam, para pelajar tersebut kemudian tertular ide pencerahan yang saat itu masih sangat dimusuhi di barat, mereka menjadi generasi awal yang menyebarkan ide pencerahan di dunia barat, lalu hadir generasi selanjutnya yang menjadikan pemikiran mereka sebagai gerakan pencerahan, disayangkan karena sebagian cendekiawan barat masih malu mengakui fakta ini.

Umat islam harus mengenali kembali tradisinya, generasi islam wajib menelaah kembali tradisi pemikiran dan gerakan yang merupakan warisan besar dunia islam kepada generasi selanjutnya, penelaahan terhadap tradisi tersebut tidak boleh sekadar menjadi pengetahuan, tahu tentang tradisi besar islam tanpa tindak lanjut menyebabkan umat terjebak pada romantisme sejarah belaka, pengetahuan utuh terhadap tradisi besar dalam pemikiran dan gerakan harus memiliki daya menggerakkan, caranya adalah perlu melakukan penafsiran ulang terhadap tradisi tersebut, agar lahir pembacaan terhadap tradisi berdasarkan konteks zaman hari ini, sehingga yang diserap bukan hanya bentuk dari tradisi tersebut, akan tetapi nilai substansi yang ada dalam tradisi tersebut, nilai substansi ini selalu memiliki daya menggerakkan kapan dan dimanapun ia hadir, sebab hanya tradisi yang memiliki daya menggerakkan yang mampu memantik perubahan

Penulis: Zaenal Abidin Riam

Kamis, 28 September 2017

senjata pembunuh generasi


Pedang diayunkan 
Pada leher tak bersalah
Maka tumpahlah darah
Dari kesalahan
Senjata dibidikkan 
Pada tubuh-tubuh tak berdosa
Maka remuklah tubuh
Akibat ulah dosa-dosa
Ketika pedang dan senjata berlomba memangsa
Maka runtuhlah kedamaian
Berkuasalah teror
Dan menanglah rasa takut
Itulah rohingnya
Dalam catatan yang sangat lusuh

ZaEnal Abidin RiAm, september 2017


Minggu, 24 September 2017

Pembusukan Opini Dalam Tragedi Rohingya


Dunia internasional dihebohkan dengan peristiwa yang dialami muslim rohingya di Myanmar, peristiwa tersebut merupakan tamparan keras terhadap nilai kemanusiaan, betapa tidak ratusan muslim rohingya dibantai dalam hitungan hari, pembantaian tersebut mendapatkan dukungan penuh dari negara, negara memanfaatkan instrumen militer, kelompok budha garis keras, serta kelompok geng yang sengaja dibentuk guna memuluskan aksi genosida terhadap muslim rohingya. Akibat pembantaian tersebut, selain ratusan jiwa melayang dalam waktu singkat, ribuan muslim rohingya juga melarikan diri ke negara sekitar Myanmar, sebuah pemandangan yang sungguh mengerikan.

Pembantaian terhadap muslim rohingya masuk kategori genosida, genosida sendiri merupakan kejahatan kemanusiaan terburuk yang sejak lama dikutuk komunitas internasional, bila dirujuk kebelakang, penderitaan yang dialami muslim rohingya memiliki babak sejarah panjang, diskriminasi terhadap muslim rohingya telah terjadi sejak Myanmar merdeka, sejak itu pemerintah Myanmar tidak pernah mau mengakui muslim rohingya sebagai bagian dari penduduk warga negara Myanmar, mereka tak pernah diberi identitas legal, otoritas Myanmar mengklaim bahwa muslim rohingnya bukan orang Myanmar tetapi orang Bangladesh, dengan modal klaim tersebut pemerintah secara masif melakukan pengusiran terhadap muslim rohingya.

Rangkaian tindakan tak berprikemanusiaan yang dilakukan pemerintah Myanmar terhadap muslim rohingya, selalu berupaya diputarbalikkan oleh otoritas setempat, Myanmar berupaya menutupi fakta genosida, mereka berdalih penyerangan terhadap muslim rohingya adalah upaya membasmi terorisme yang memiliki jaringan dengan ISIS, bahkan secara terbuka militer Myanmar meminta dukungan penuh seluruh warganya agar mendukung aksi militer terhadap muslim rohingya, pihak Myanmar selalu bersikukuh bahwa tidak ada pembantaian di Myanmar, mereka menuduh media telah menyebarkan berita hoax tentang situasi di Arakan, pemerintah Myanmar juga berupaya menghalangi media yang ingin menggali informasi secara langsung di Arakan, parahnya lagi para relawan yang ingin meyalurkan bantuan kemanusiaan tidak diberi akses oleh penguasa setempat, ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Myanmar untuk menutupi apa yang sesungguhnya terjadi di rohingya. Pemerintah Myanmar ingin agar semua pihak menggali informasi hanya dari pihak pemerintah, padahal barang tentu informasi tersebut sangat mereduksi fakta yang sesungguhnya. Inilah hoax yang nyata dan terang.

di Negara lain, informasi hoax yang ditebar pemerintah Myanmar cukup mempengaruhi persepsi masyarakat tertentu, minimal mampu mereduksi bahwa peristiwa rohingya sama sekali tak ada kaitannya dengan agama, nuansa seperti ini juga nampak dalam pemberitaan di media nasional tertentu, penggantian istilah “muslim rohingya” menjadi “etnis rohingya” merupakan bagian dari skenario tersebut, cara halus ini seolah ingin menciptakan kesan kepada publik bahwa paling jauh rohingya hanya masalah etnis, tak ada hubungannya dengan masalah agama, tentu hal ini tak berdasar mengingat yang disasar oleh penguasa Myanmar hanya orang islam yang berada di Arakan, di sisi lain kelompok budha garis keras juga memobilisasi pengikutnya untuk melakukan pembantaian terhadap orang-orang rohingya yang notabenenya beragama Islam. Kekhawatiran pihak media tertentu, bahwa ketika nuansa agama diangkat dalam pemberitaan rohingya, maka hal tersebut akan memicu konflik agama di Indonesia, adalah sebuah kekhawatiran yang tidak berdasar,pemberitaan model seperti ini pada dasarnya juga telah mengandung unsur hoax, oleh sebab itu perlu digalakkan kampanye masif tentang apa yang sebenarnya dialami muslim rohingya, agar muncul opini yang benar seputar rohingya.

Zaenal Abidin Riam
Ketua Komisi Intelektual dan Peradaban PB HMI MPO

GERAKAN

KOMUNITAS

Serba-serbi

 
Copyright © 2013 Pemikiran dan Sastra
Design by FBTemplates | BTT