BREAKING

Sabtu, 14 September 2013

Spiritualisme Simbolik

oleh: ZaEnal Abidin RiAm
Ketua HMI MPO Badko Sulambanusa


              Agama sebagai ajaran mengandung seperangkat aturan baku, oleh penganutnya aturan tersebut diyakini mampu mengantar manusia memasuki gerbang keselamatan sehingga manusia kemudian mendaulat ajaran agama sebagai pedoman yang mesti diikuti, dalam kaitannya dengan masyarakat maka agama dalam level tertentu merupakan sesuatu yang bersifat unik, ia memiliki ciri khas tersendiri yang seolah tak lekang oleh zaman, ada masa ketika agama dipiggirkan dari ranah publik bahkan ia ingin dimatikan, sejarah awal pencerahan dunia modern menampilkan fenomena ini, akan tetapi agama juga sering disanjung sebagai dewa penyelamat dalam kurun masa tertentu, kecenderungan ke dua menjadikan ekspresi keagamaan tumbuh subur, ada pertanyaan menarik terkait tumbuh suburnya ekspresi keagamaan, apakah ekspresi keagamaan merupakan substansi agama itu sendiri? apakah ekspresi keagamaan yang belakangan ini berseliweran di sekitar kita merupakan indikasi bahwa agama dalam makna substansi telah dijalankan?.

            Dalam titik tertentu ekspresi keagamaan yang belakangan ini menjamur perlu diapresiasi, minimal hal itu bisa dipandang sebagai peningkatan kepercayaan dalam menampilkan simbol agama di ruang publik, contoh kecil, jilbab pada dekade 70-an dan 80-an merupakan tampilan (ekspresi) yang sangat tabu di ruang publik namun kini jilbab bukan hanya tidak tabu bahkan ia telah menjadi budaya lumrah dalam kehidupan masyarakat, hal serupa juga terjadi pada simbol keagamaan lainnya. secara ideal menjamurnya simbol keagamaan di ruang publik seharusnya berbarengan dengan menguatnya karakter keagamaan dalam diri setiap penganut agama, untuk mengidentifikasi hal itu maka kita tinggal melihat perbuatan menyimpang yang dilakukan oleh penganut agama, faktanya dari waktu ke waktu perbuatan menyimpang dalam bentuk kriminalitas atau dalam bentuk lain justru mengalami peningkatan dan pelakunya adalah orang yang menganut agama (minimal mereka mengaku menganut agama tertentu), lebih menyedihkan lagi karena individu tertentu yang massif mengekspresikan simbol agama di ruang publik justru terkadang terlibat kasus hukum akibat perbuatan negatif yang dilakukannya.
            penulis bukan pada posisi ingin menyalahkan agama yang dimunculkan dalam bentuk simbolik atau menghakimi agama akibat prilaku menyimpang yang dilakukan oleh oknum penganut agama yang secara benderang intens menampakkan simbol keagamaan di ruang publik, yang ingin saya tekankan bahwa ada sesuatu hal lebih penting dari sekadar menampakkan agama dalam bentuk simbolik (spiritualisme simbolik), yakni bagaimana menerjemahkan nilai ajaran agama ke dalam prilaku keseharian, bagaimana agar iman tidak hanya hadir dalam ritual ibadah yang kita lakukan setiap hari akan tetapi ia mesti bisa hadir dalam setiap lakon penganutnya.
            yang lebih tidak bijak dari semua itu adalah tatkala muncul kecenderungan untuk menganggap bahwa model spiritualisme simbolik merupakan substansi ajaran agama itu sendiri, pandangan ini terkesan latah karena hanya menekankan dimensi luar dari agama, pada posisi ini agama tidak akan fungsional dalam mencegah kekacauan hidup padahal kehadiran agama merupakan sebagai sebuah usaha counter terhadap kekacauan, usaha pemaknaan terhadap agama dalam nuansa simbolik an sich akan menyebabkan agama seolah terpisah dengan kehidupan riil penganutnya berikut masalah yang menjadi hiasan keseharian penganut agama.


             







  



                                                         

About ""

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Vivamus suscipit, augue quis mattis gravida, est dolor elementum felis, sed vehicula metus quam a mi. Praesent dolor felis, consectetur nec convallis vitae.

Posting Komentar

 
Copyright © 2013 Pemikiran dan Sastra
Design by FBTemplates | BTT