BREAKING

Minggu, 17 Mei 2015

Darimanakah Seharusnya Revolusi Berawal?

Oleh: Zaenal Abidin Riam

            Istilah revolusi merupakan kosakata paling populer dalam dunia gerakan, istilah ini menyimpan makna heroisme mendalam, kata revolusi tidak hanya akrab dengan aktivis mahasiswa dan ormas, namun semua pihak yang konsen pada perubahan, pasti tidak asing lagi dengan kosakata tersebut, revolusi diyakini sebagai metode perubahan paling ampuh dan ideal, revolusi mengisyaratkan sebuah perubahan yang berlangsung cepat dan utuh (mengganti sistem dan aktor sistem), sepanjang sejarah perubahan, beberapa negara telah melangsungkan revolusi, ada yang gilang – gemilang, China dan Iran bisa dimasukkan dalam kategori ini, ke dua negara tersebut mampu memenuhi janji revolusi kepada rakyatnya, ada pula kenyataan revolusi yang tidak seindah harapan ideal revolusi, justru revolusi yang terjadi di negara tersebut, memakan anak kandungnya sendiri, kasus Indonesia pasca 1945 dan Mesir modern, adalah contoh konkrit dari fenomena ini.
            Ketika revolusi yang menjanjikan harapan ideal, ternyata menampakkan kenyataan yang bertentangan dengan janjinya sendiri, maka tentu ada yang keliru, mengidentifikasi kekeliruan tersebut, bisa dilakukan pada aras konsep, atau bisa juga pada proses yang merupakan aplikasi dari konsep revolusi, identifikasi terhadap konsep revolusi, bukan bermaksud menyeragamkan konsep revolusi, sebab dalam realitasnya, terdapat beberapa varian konsep revolusi, perbedaan konsep tersebut, umunya dilatarbelakangi perbedaan pandangan dunia, identifikasi pada konsep sekaligus praktek revolusi, lebih diarahkan pada, darimana seharusnya revolusi dimulai?.


              Membincang tentang titik awal revolusi, termasuk sangat urgen, karena hal ini sama dengan peletakan pondasi revolusi, jika pondasinya lemah, maka boleh jadi revolusi sebatas berumur jagung, bahkan mungkin sekadar angan yang tak terjadi, salah satu kesalahan mendasar dari penggiat revolusi, adalah ketidaksabaran mereka dalam mewujudkan revolusi, seolah karena revolusi dianggap sebagai perubahan super cepat, maka memproses dan mewujudkannya, juga harus cepat, revolusi seolah dipersamakan dengan menanam bibit kacang, yang beberapa pekan ke depan dapat langsung tumbuh, kesalahan mendasar lainnya, penggiat revolusi, terlalu, bahkan hanya memfokuskan revolusi pada perjuangan fisik semata, seolah langkah wajib pertama dalam melakukan revolusi, adalah langsung masuk pada tahap perjuangan fisik, lalu seharusnya revolusi yang ideal dimulai darimana?.
            Untuk merawat usia revolusi, agar tak berumur jagung, maka perlu persiapan matang, tidak terburu – buru, bukan pula dengan langsung memobilisasi massa turun ke jalan, langkah itu seharusnya dimulai denga gerakan pencerahan, penyadaran pola pikir kepada masyarakat yang telah terlalu lama menjadi korban retorika penguasa, revolusi harus dimulai dengan revolusi intelektual, kerja semacam ini memang membutuhka kesabaran dan ketekunan, selain itu cara ini memang tidak populis, sehingga bagi mereka yang lebih mementingkan populisme gerakan, akan sukar menerima tawaran tersebut, dalam semua sejarah perubahan, perubahan terjadi ditandai dengan munculnya individu yang melawan pola pikir tirani pada zamannya, revolusi pengetahuan modern misalnya, yang memicu lahirnya renaissance, dimulai dengan pembangkangan Galileo galilei terhadap doktrin gereja, dalam islam, ada contoh nyata, revolusi yang dilakukan Rasulullah, dimulai dengan perlawanan pola pikir dan karakter yang sangat menyimpang, revolusi ini, juga dimulai Rasulullah, dengan terlebih dahulu melakukan pencerahan paradigma kepada masyarakat arab pada waktu itu.

              Jika kita ingin terbuka mengambil ibrah pada sejarah, maka kita akan menjumpai, bahwa semua revolusi diawali dengan perubahan paradigma, aktor yang dapat melakukan perubahan paradigma, adalah mereka yang konsentrasi pada dunia pemikiran, namun tidak keasyikan di dalamnya, mereka bukan para kelompok intelektual yang hanya berumah di atas awan, mereka adalah kelompok intelektual yang selalu memeriksa relasi antara pemikirannya dan kenyataan di lapangan, intelektual semacam ini, memang jumlahnya tidak banyak, bahkan bisa sangat sedikit dalam setiap zaman, namun yang pasti, mereka selalu ada dalam setiap zaman, bila kerja pencerahan pola pikir kepada masyarakat berhasil dilakukan, maka anda tidak perlu lagi terus – menerus memprovokasi mereka dengan jargon revolusi, bahkan tanpa anda provokasipun, mereka akan secara otomatis bergerak sendiri merevolusi kondisi dan suasana, yang perlu dilakukan adalah, tetap melebur bersama mereka (masyarakat), untuk menapakkan kaki di atas jalan revolusi, bersama – sama menentukan langkah dan arah dari revolusi yang sedang dijalani, menjelaskannya memang mudah, tetapi wajah realitas revolusi tidak akan tampil semudah itu


About ""

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Vivamus suscipit, augue quis mattis gravida, est dolor elementum felis, sed vehicula metus quam a mi. Praesent dolor felis, consectetur nec convallis vitae.

Posting Komentar

 
Copyright © 2013 Pemikiran dan Sastra
Design by FBTemplates | BTT