BREAKING

Minggu, 17 Mei 2015

Elitisme Gerakan Sosial

Oleh: Zaenal Abidin Riam
Ketua HMI MPO Badko Sulambanusa (Sulawesi bagian selatan, Maluku utara, Bali dan Nusa tenggara)

            Pasca runtuhnya orde baru, organisasi gerakan sosial tumbuh subur, ada yang muncul kembali setelah dikekang oleh rezim orde baru, adapula yang baru terbentuk, yang baru terbentuk ini, boleh jadi, merupakan ekspresi ketidakpuasan  terhadap organisasi gerakan sosial yang ada sebelumnya, dalam kenyataannya, banyak organisasi gerakan sosial, yang baru muncul, merupakan pecahan dari organisasi sosial yang ada sebelumnya, tetapi banyak pula yang berdiri tanpa ada keterkaitan masa lalu dengan organisasi gerakan sosial lainnya, ada beragam motivasi mendirikan organisasi gerakan sosial, dari semua motivasi tersebut, secara ideal, lahirnya organisasi gerakan sosial, merupakan respon terhadap ketimpangan sosial yang terjadi di tengah masyarakat, respon terhadap ketidakadilan yang tumbuh subur di tengah masyarakat, karena orientasi idealnya ini, sehingga semua organisasi gerakan sosial berorientasi pada pembelaan kaum lemah dan terpinggirkan, metode yang ditempuh boleh berbeda, tapi orientasi tujuan sama.

            Yang ganjil karena, dengan semakin banyaknya organisasi gerakan sosial, ketimpangan sosial justru semakin lestari, lalu dimana peran organisasi gerakan sosial tersebut? Sudahkah mereka benar – benar berbuat untuk kesejahteraan rakyat dalam kadar apapun? Pertanyaan semacam  ini semestinya mampu menjadi bahan renungan bagi organisasi gerakan sosial, banyak organisasi gerakan sosial yang terjebak pada elitisme gerakan, mereka lebih gemar menyorot masalah yang lagi ramai diperbincangkan, khususnya yang terkait dengan masalah politik praktis, energi gerakan habis digunakan membedah masalah seperti itu, sedangkan masalah politik praktis seperti ini, boleh jadi tidak punya implikasi langsung terhadap perbaikan taraf hidup masyarakat, di sisi lain, ada juga yang fokus membincang masalah pada aspek yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat, tetapi perbincangan mereka masih terbilang elitis, mereka belum membincang masalah keseharian masyarakat, contohnya organisasi yang konsen pada wilayah ekonomi, mereka hanya sibuk berbicara tentang nilai tukar rupiah, ekspor impor, tapi lupa pada upaya pengentasan kemiskinan secara langsung kepada masyarakat.

            Kita memahami bahwa, hadirnya organisasi gerakan sosial, bukan bermaksud mengambil alih peran pemerintah, dengan bertindak sebagai wadah yang bertanggungjawab penuh terhadap kesejahteraan masyarakat, kesejahteraan masyarakat tetap menjadi tanggung jawab utuh pemerintah, organisasi gerakan sosial hadir membantu pemerintah demi memastikan kesejahteraan masyarakat, sekaligus mengontrol pemerintah bila pemerintah melakukan penyimpangan, oleh sebab itu peran yang seharusnya dilakukan organisasi gerakan sosial, adalah peran pemberdayaan, berusaha memberdayakan masyarakat agar mampu hidup sejahtera, untuk memberdayakan, tentu organisasi gerakan sosial harus benar – benar menyatu dengan masyarakat, kelompok yang selama ini mereka dengungkan untuk dibela, organisasi gerakan sosial harus hidup langsung di tengah rakyat, menulusuri masalah masyarakat, mendampingi masyarakat dalam mendapatkan hak yang seharusnya didapatkan, organisasi gerakan sosial, tidak boleh hanya sibuk mempublikasikan diri di media dengan harapan organisasinya akan terkenal, sewaktu – waktu bersuara di media memang dibutuhkan, tapi itu bukan fokus utama.
            Sudah waktunya bagi organisasi gerakan sosial, untuk kembali ke fitrahnya, yakni fitrah pembelaan terhadap kaum lemah dan terpinggirkan, secara ideal, gerakan hadir untuk memantik lahirnya perubahan, perubahan tidak akan terjadi tanpa ada sekelompok manusia yang membimbing dan mengarahkan masyarakat menuju perubahan, namun menjadi ironis saat kelompok yang seharusnya mengarahkan masyarakat menuju perubahan, justru mengambil jarak dengan masyarakat, padahal dalam retorika gerakannya, mereka selalu menyebut kata “rakyat” sebagai entitas yang wajib diperjuangkan, jika seperti ini modelnya, maka rakyat seolah menjadi bahan jualan saja demi meraih populisme gerakan, kita telah banyak menjumpai, organisasi gerakan sosial, yang sering muncul di media mengatasnamakan rakyat, tapi tak satupun aksinya di tengah rakyat yang benar – benar membela rakyat, organisasi gerakan sosial bukan kelompok elit, ia merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat, maka sudah seharusnya bila dirinya mengidentifikasikan diri sebagai bagian dari masyarakat.


About ""

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Vivamus suscipit, augue quis mattis gravida, est dolor elementum felis, sed vehicula metus quam a mi. Praesent dolor felis, consectetur nec convallis vitae.

Posting Komentar

 
Copyright © 2013 Pemikiran dan Sastra
Design by FBTemplates | BTT